Directorate of Environmental Services - Ministry of Forestry |
| Kesatuan Pengelolaan Hutan Jawaban bagi Keberlanjutan Program REDD+? Posted: 07 Aug 2014 07:16 PM PDT
Pada tanggal 22 Juli 2014, bertempat di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, Project Steering Committe (PSC) IJ-REDD+ melakukan pertemuan guna membahas perkembangan proyek. Pertemuan dibuka oleh Ketua PSC, Bapak Dr Hadi Daryanto, dengan moderator Ketua Pokja Perubahan Iklim, Ibu Yetti Rusli. Agenda pertemuan adalah membahas hasil capaian proyek IJ-REDD selama 1 tahun dan rencana pelaksanaan proyek di tahun mendatang. Hasil akhir yang akan dicapai proyek ini yaitu pengembangan mekanisme implementasi IJ-REDD+ dalam tingkat nasional, juga dibahas. Dalam pemaparannya, Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung Ditjen PHKA, Dr Bambang Supriyanto menekankan perlunya mekanisme promosi pasar bagi REDD+ melalui kerjasama proyek ini. Konsep Joint Credit Mechanism (JCM) yang telah diadopsi antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang untuk implementasi REDD+ menjadi salah satu opsi pasar. Ini menjadi tantangan bagi proyek dalam pencapaian exit strategy agar program REDD+ dapat berlanjut meskipun proyek berakhir pada 2016. Konsep pasar tersebut juga didukung penuh oleh Pemerintah Jepang sebagaimana disampaikan perwakilan Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia. Beberapa hal yang telah dicapai dalam pengembangan REDD+ di kedua propinsi, khususnya di Taman Nasional Gunung Palung, meliputi:
Hasil pengumpulan data (survey) untuk mengetahui karbon level di tingkat propinsi, menyatakan bahwa terjadi peningkatan tutupan hutan/lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Palung dari tahun 2010-2013. Sebaliknya, terjadi penurunan tutupan hutan/lahan di lahan di keempat kabupaten tersebut di atas. Berdasarkan data tersebut, kawasan TN Gunung Palung dinilai layak sebagai lokasi yang tepat bagi pengembangan model REDD+ dengan empat satelit yaitu pada keempat kabupaten. Tantangan pengembangan REDD+ kedepan adalah adanya kepastian kelembagaan serta sumberdaya manusia yang berkompeten agar REDD+ dapat berlanjut. Rancangan aksi nasional maupun rancangan aksi daerah untuk penurunan emisi gas rumah kaca sebagai implementasi REDD+ dirasa masih kurang efektif. BAPPENAS dan BP REDD menyarankan bahwa konsep pengembangan model REDD+ akan dapat berlanjut ketika dilakukan dalam satu Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Dan sekali lagi, Taman Nasional Gunung Palung yang telah ditetapkan menjadi Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) merupakan lokasi yang sangat layak. Namun, mengingat konsep REDD+ sendiri masih menjadi wacana internasional yang dibahas di UNFCCC, apakah KPHK sudah dapat menjamin pengembangan REDD+, masih perlu diketahui. Untuk itu, proyek IJ-REDD akan mengupayakan ke arah tersebut. [Teks & foto| ©PJLKKHL|08082014|lana] |
| You are subscribed to email updates from Direktorat PJLKKHL To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |



















0 komentar:
Posting Komentar