Directorate of Environmental Services - Ministry of Forestry |
| Pojok Belajar Perdana : Revolusi Mental Untuk Konservasi Alam Posted: 19 Oct 2014 08:56 PM PDT
Jum'at 10 Oktober 2014, untuk pertama kalinya Pojok Belajar digelar. Tema yang dibahas adalah "Revolusi Mental Untuk Mendobrak Komitmen Konservasi Alam". Ini didasarkan kepada kondisi yang berkembang saat ini dimana konservasi alam masih belum dipandang sebagai kebutuhan bangsa Indonesia. Padahal dalam konteks pembangunan berkelanjutan, bangsa Indonesia harus mampu mengelola asetnya antara lain berupa alam nusantara yang terkenal dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (Megabiodiversity), yang antara lain diselamatkan melalui penetapan 50 kawasan Taman Nasional dan 128 Taman Wisata Alam, dan kawasan konservasi lainnya. Perlindungan, Penyelamatan dan Pemanfaatan yang harmonis terhadap kawasan tersebut perlu digali, dipahami dan dikembangkan agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan bangsa Indonesia. Hadir dalam diskusi yaitu Bambang Supriyanto selaku Direktur PJLKKH dan Diah Yulinar sebagai pemerhati kehutanan. Pada Bambang Supriyanto memperkenalkan konsep "U Theory" dengan referensi dari buku karya Otto Scharmer and Katrin Kaufer sebagai salah satu teori yang bisa digunakan untuk menerapkan revolusi mental, dengan judul " Leading From the Emerging Future from Ego System à To Eco System à Economies. Dalam paparannya di jelaskan bahwa U Theory Process dimulai dari Downloading, Suspending Redicting, Letting go, Letting Come, Enacting, Embodung hingga Performing. Dalam proses tersebut juga dijelaskan sebagai manusia harus Open Mind, Open Heart dan Open Will sehingga saat berdiskusi atau berhadapan dengan masyarakat pikiran dapat terbuka, mau mendengar inspirasi atau gagasan dari orang masyarakat, dan tidak melakukan judgement. Dengan demikian akan muncul ide-ide kreatif dari masyarakat. Setelah ide-ide kreatif dapat diterima maka akan mendorong masyarakat untuk melakukan aksi kolektif dalam konservasi dan kita dapat belajar dari kearifan lokal. Selain itu juga dijelaskan pemaparan referensi dari Peter Senge dalam buku The Fitth Discipline The Necessary Revolution, mengenai Governance Bubble yaitu kepentingan kelompok lebih diutamakan sehingga ego kelompok yang lebih menonjol. Saat ini, kondisi bumi semakin memprihatinkan. Daya dukung bumi sudah semakin kecil. Saat ini diperkirakan, kita butuh satu bumi yang baru untuk bisa memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia. Selain itu, masalah lingkungan terjadi dimana-mana, tidak hanya di Indonesia. Kebakaran hutan besar selain di Indonesia, juga terjadi di Australia dan Amerika Serikat. Begitu pula banjir besar yang melanda Australia dan beberapa negara Asia lain. Dengan demikian, sudah seharusnya ada aksi Kolektif. Karena, permasalahan lingkungan tidak bisa hanya diselesaikan oleh satu negara saja, namun harus diselesaikan secara lintas sektoral. Hal terpenting adalah untuk memulai dari diri kita sendiri dan kelompok kecil yang peduli. Karena itulah revolusi mental dibutuhkan untuk mendukung konservasi alam. Pojok Belajar ini bisa menjadi contoh untuk memulai aksi kolektif. Sebenarnya, apa itu revolusi mental? Pemaparan kedua oleh Diah Yulinar menjelaskan bahwa Revolusi Mental adalah Beberapa hal yang menjadi diskusi peserta : 1. Kondisi mental terkait dengan konservasi Konservasi selama ini dikonotasikan hanya untuk perlindungan flora dam fauna saja. Seringkali kita lupa bahwa manusia adalah peran yang sangat penting sebagai pelindung. Oleh karena itu konservasi seharusnya tidak hanya mementingkan satwa liar saja tetapi manusia juga. 2. Sikap mental, nilai dan norma yang diharapkan Berpikir terbuka dengan masyarakat, mendengar aspirasi atau gagasan dari masyarakat sehingga masyarakat terdorong untuk melakukan aksi kolektif dalam konservasi. 3. Hal-hal yang diperlukan dalam melakukan Revolusi Mental
Dalam konteks konservasi alam, diperlukan usaha yang keras untuk merubah cara pandang, pengetahuan, dan cara berfikir masyarakat luas untuk memandang konservasi secara lebih adil dan objektif. Selama ini, konservasi selalu dikonotasikan hanya untuk perlindungan fauna, flora, dan ekosistem. Dalam konservasi, tidak harus selalu hanya membicarakan tentang perlindungan, ekosistem, satwa dan sumberdaya alam lainnya. Namun, konservasi alam harus dapat dihubungkan dengan kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan. "Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah kurikulum atau mata ajar yang diberikan oleh pihak universitas mengenai hutan, kehutanan dan konservasi alam kepada anak didik di bangku kuliah, " ungkap Cherryta, salah satu peserta Pojok Belajar. Banyak materi dan teori yang diberikan sudah tidak sesuai dengan kondisi dan perkembangan saat ini. Mahasiswa kehutanan hendaknya dituntut untuk lebih mampu mengeksplore permasalahan di lapangan dan berhadapan langsung dengan masyarakat dan menjadi penyampai pesan mengenai konservasi. Dengan demikian, mahasiswa kehutanan dapat mengambil peranan strategis sebagai salah satu komunikator konservasi alam Indonesia. Melalui diskusi setengah hari ini diharapkan adanya perbincangan yang dapat menginspirasi dan menghasilkan langkah kongkrit untuk terus melakukan perubahan kepada yang lebih baik dalam mengelola asset negeri ini. Tentunya sebagai pondasi dibutuhkan persepsi dan komitmen bersama para pihak: pemerintah, pemerintah daerah, politisi, dan masyarakat Indonesia untuk memandang konservasi dengan cara yang berbeda. [teks & foto | ©PJLKKHL | 20102014 | eka-dina] |
| You are subscribed to email updates from Direktorat PJLKKHL To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |



















0 komentar:
Posting Komentar