... Join Us On Facebook

Senin, 23 Maret 2015

Directorate of Environmental Services - Ministry of Forestry

Senin, 23 Maret 2015

Directorate of Environmental Services - Ministry of Forestry


200 Tahun Menyapa Dunia

Posted: 23 Mar 2015 01:33 AM PDT

Kisah pilu yang terjadi 200 tahun silam itu terus membekas di    kalangan masyarakat Pulau Sumbawa, dan Nusa Tenggara Barat umumnya. Cerita dari mulut ke mulut tentang letusan Gunung Tambora tersebut seolah tidak berkesudahan. Masyarakat Sumbawa, dan Nusa Tenggara Barat pada umumnya sulit melupakan kisah letusan Gunung Tambora pada tahun 1815. 5 April 2005 mendatang, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, memasuki usia 200 tahun meletus. Letusan Tambora saat itu menewaskan sekitar 91.000 orang. Tiga kerajaan yang berada di kaki gunung, yakni Sanggar porak poranda, sedangkan Kerajaan Tambora dan Pekat hancur tak tersisa.

Letusan itu itu memuntahkan material kurang lebih 150 miliar meter kubik, sehingga memunculkan kawah sedalam 1.100 meter dengan diameter seluas 6,2 kilometer. Tinggi kepulan asap Tambora mencapai 43 kilometer. Abu vulkanik jatuh hingga di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Gemuruhnya pun terdengar hingga di Sumatera atau sekitar 2.600 kilometer dari Tambora. Bahkan, kuatnya letusan tersebut memangkas ketinggian Tambora dari 4.200 meter dari permukaan laut (mdpl) menjadi hanya 2.700 mdpl.

Kegelapan berlangsung selama lebih dari dua hari hingga radius kurang lebih 600 kilometer dari puncak gunung. Semua tumbuhan dan hewan pun mati. Pulau Sumbawa pun diliputi kegelapan. Masyarakat di Bima, Dompu dan wilayah lain di Sumbawa yang lolos dari maut saat itu menderita luar biasa. Sejumlah penyakit menyerang mereka, sebab air yang diminum terkontaminasi material berancun dari abu vulkanik.

Kisah piluh yang terjadi 200 tahun silam itu terus membekas di kalangan masyarakat Pulau Sumbawa, dan Nusa Tenggara Barat umumnya. Cerita dari mulut ke mulut tentang letusan Gunung Tambora tersebut seolah tidak berkesudahan. Masyarakat Sumbawa, dan Nusa Tenggara Barat pada umumnya sulit melupakan kisah letusan Gunung Tambora pada tahun 1815. Mereka selalu mengenang peristiwa itu untuk selalu mawas diri.

Promosi Sumbawa

Sadar akan hal tersebut, maka memasuki 200 tahun meletusnya Gunung Tambora dianggap perlu diperingati khusus.

Pertimbangannya, antara lain saat ini sejumlah gunung api semakin sering meletus. Bencana seperti itu bisa saja suatu saat menimpa Tambora. Untuk itu, semua masyarakat, terutama yang menetap di sekeliling Gunung Tambora diingatkan untuk selalu waspada sekaligus meningkatkan kesadaran tentang mitigasi bencana.

Biasanya masyarakat kita cenderung lupa dan lengah terhadap sebuah peristiwa. Apalagi peristiwa itu sudah lewat beberapa tahun. Melalui peringatan ini, kami ingin mengingatkan terus-menerus bahwa bencana selalu datang setiap saat. Karena itu, kita harus selalu siap setiap saat.

Selain itu, NTB memiliki dua pulau besar, yakni Lombok dan Sumbawa. Selama ini, Lombok sudah cukup popular dan menggeliat dengan sektor pariwisata sebagai unggulan utama. Setiap hari wisatawan domestic dan mancanegara berdatangan ke Lombok untuk berwisata. Di sana, ada pantai Senggigi, Pantai Kuta dan Gili Terawangan sebagai magnet menjaring wisatawan. Itu didukung pula kehadiran Bandara Internasional Lombok yang kini melayani puluhan penerbangan domestik dan internasional.

Sedangkan, Pulau Sumbawa bukannya tidak memiliki potensi. Di pulau seluas 14.386 kilometer persegi itu sesungguhnya merupakan "raksasa"NTB yang masih tertidur. Di sana, ada tambang emas yang saat ini digarap investor asing, PT Newmont Nusantara. Potensi lain adalah energi panas bumi, sentra budidaya sapi nasional, budidaya udang, dan salah satu sentra produksi padi. Bahkan, pesisir selatan Dompu termasuk salah satu titik terbaik untuk berselancar.

Karena itu, melalui peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora, pemerintah NTB ingin mempromosikan Sumbawa. Kami ingin ke depan, Sumbawa dapat berkembang lebih cepat agar bisa sejajar dengan Lombok. Sekarang kesempatan itu datang, dan kami ingin memanfaatkan secara optimal.

Partisipasi Kompas

Terkait dengan peringatan itu, harian Kompas pun terpanggil menyelenggarakan kegiatan di Tambora. Sebab bagi Kompas, gunung api tidak hanya menimbulkan malapetaka, tetapi juga selalu memberikan manfaat ekonomis, termasuk melahirkan peradaban bagi umat manusia. Itu sebabnya, potensi yang ada perlu diberdayakan.

Setidaknya ada empat kegiatan yang akan dilakukan harian Kompas. Itu meliputi perjalanan bersepeda atau Tambora Bike sejauh 408 kilometer dari Kota Mataram (Lombok) menuju Doro Ncanga (kaki Gunung Tambora) pada 9-11 April 2015. Dalam Tambora Bike konsep yang ditawarkan adalah petualangan, sehingga peserta hanya semalam inap di hotel. Lalu tiga malam berikutnya inap dalam tenda.

Kompas juga menggelar lomba lari sejauh 320 kilometer mulai dari Pototano (ujung barat Pulau Sumbawa) hingga Doro Ncanga. Lari Trans-Sumbawa ini dimulai pada 8 April 2015, dan peserta hanya diberi waktu 64 jam. Pada 11 April 2015 pagi, digelar pula lomba lari marathon sejauh 46 kilometer dan 22 kilometer yang dimulai dari Dorocanga menuju puncak Gunung Tambora pergi pulang. Ada pula pentas music country di Tambora.

Bahkan, harian Kompas pun akan menyiapkan liputan khusus tentang Tambora, dan Pulau Sumbawa yang akan terbit selama 1-13 April 2015. Liputan dan publikasi memadukan koran, televisi, online, dan radio.

Beberapa event kegiatan yang akan dihelat pada 200 Tahun Menyapa Dunia ini, antara lain :

Menyambut 200 tahun meletusnya Gunung Tambora, Harian Kompas mempersembahkan Tambora Challange dengan mengajak para penantang untuk menikmati keindahan pulau NTB dan Gunung Tambora pada tanggal 6 – 11 April 2015

Tambora Bike, sebuah petualangan bersepeda menyusuri Nusa Tenggara Barat, sejauh 408 km. Petualangan ini dimulai dari Mataram, Pelabuhan Kayangan, Utan, Pidang, dan berakhir di Doro Ncanga di kaki Gunung Tambora.

Trans Sumbawa, Berlari menuju kaki Gunung Tambora melewati 3 distrik pulau NTB (Poto Tano menuju Doro Ncanga) sejauh 320 km / 200 mil dengan cut off time selama 64 jam.

 

 

Tambora Trail, event trail run menuju puncak Gunung Tambora dan kembali lagi ke kaki gunung Tambora di Doro Ncanga sejauh 42 km dan 24 km. Peserta akan disuguhi pemandangan yang indah khas Gunung Tambora.

 

[Sumber : http://tamborachallenge.com/trip/about-tambora/ dan http://tamborachallenge.com/| ©PJLKKHL | 23032015 |Hars]

 

 

0 komentar:

Posting Komentar

 
◄| Rumah | Tentang Kami | Copyright © 2012 - Laiwangi Pos | Powered by Blogger | Design by Blogbulk - Pocket | Distributed by Deluxe Templates | Galeri Foto | Hubungi Kami | ►