... Join Us On Facebook

Senin, 08 Desember 2014

Kawasan Taman Nasional Sebangau Siap untuk Implementasi Penuh REDD+

Senin, 08 Desember 2014

Directorate of Environmental Services - Ministry of Forestry


Posted: 08 Dec 2014 07:33 PM PST
Berada di propinsi Kalimantan Tengah, Taman Nasional Sebangau sejak 2006 ditabalkan sebagai area konservasi. Luasnya yang 568.700 ha sebagian besar berupa gambut yang menyimpan stock karbon sebesar 2.3 Gton. Inilah lahan gambut yang masih tersisa di Pulau Borneo. Sebelumnya, hutan Sebangau berstatus hutan produksi. Pada 1990-an, 13 lahan konsesi berada di dalamnya. Ribuan transportasi yang hilir mudik, diduga menjadi penyebab keringnya pengairan gambut di kawasan ini. Akibatnya level air tanah di kawasan ini pun menurun, degradasi serta dekomposisi gambut lambat laun merusak ekosistem hutan Sebangau.

Ketika Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi melaui REDD+, Taman Nasional Sebangau bersama mitranya, WWF, berkomitmen menjadikan kawasan ini sebagai lokasi Demonstration Activities REDD+ (DA REDD+).  Program ini untuk mengkonservasi lahan gambut agar kawasan hutan kembali pulih. Selanjutnya, kawasan hutan mampu menghidupi masyarakat sekitar dari sumberdaya gambut yang tersedia.  Maka, dilakukanlah restorasi hidrologi dengan tujuan untuk mengurangi emisi karbon dari kawasan taman nasional. Ini dilakukan di Sungai Bakung, Rasau dan Bangah dengan membuat pemblokiran kanal/ dam secara permanen, sederhana, dan semi permanen. Dam dimaksudkan untuk mempertahankan tinggi muka air tanah dan air permukaan.
Geliat ekonomi yang dilecutkan : budidaya ikan pada reservoir dam yang dibangun, penanaman tanaman tropis bernilai ekonomi tinggi, pengembangan hasil hutan bukan kayu, kerajinan tangan, ekowisata dan jasa lingkungan lainnya.

Sejak dilakukannya upaya hidrologi melalui pembuatan kanal/dam di Taman Nasional Sebangau, hingga teregistrasinya DA REDD+ tersebut di Kementerian Kehutanan,taman nasional terus berupaya melakukan restorasi ekosistem dan pemberdayaan masyarakat.  Melalui metode VM0027 yang diakui oleh UNFCCC, maka pada tahun 2014, metode ini dilakukan verifikasi.  Hasilnya, metodologi ini mendapatkan sertifikasi VCS untuk "Rewetting Tropical Peatswamp Forest" (VM0027 tersebut) pada Juli 2014.  Sungguh suatu upaya kerja keras yang bermanfaat.
Sertifikasi VCS memerlukan persyaratan lain yaitu  validasi atas metode yang digunakan. Oleh Climate, Community and Biodiversity Alliance (CCBA) validasi pun dilakukan.  Dan sekali lagi, upaya kerja keras Sebanagu membuahkan hasil. Pada 18 November 2014, CCBA mengeluarkan hasil validasi tdengan kategori GOLD LEVEL.  Sungguh suatu keberhasilan yang bernilai mengingat Taman Nasional Sebangau memperoleh dua sertifikasi; VCS dan CCBS di 2014 ini.   Selanjutnya, Sebangau siap untuk implementasi penuh REDD+.  Mari kita dukung bersama!!.
[Teks&foto | ©PJLKKHL|09122014 |lana&tnsebangau]

0 komentar:

Posting Komentar

 
◄| Rumah | Tentang Kami | Copyright © 2012 - Laiwangi Pos | Powered by Blogger | Design by Blogbulk - Pocket | Distributed by Deluxe Templates | Galeri Foto | Hubungi Kami | ►